benarkah SBY kalau meninggal tidak wajib untuk dishalatkan?

adakah dalil dalil shahih yang mengharamkan koruptor untuk dishalatkan atau ini termasuk perkara yang mengada-ada (bid'ah)

http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/15577/...

Comments

  • Tidak peduli siapapun, pekerjaannya apapun, jika semasa hidupnya dia sholat, maka saat meninggal wajib ada yang menyolatkan. Tapi kalo semasa hidup tidak sholat, saat mati maka WAJIB TIDAK DISHOLATKAN, kalo disholatkan malah tidak boleh.

  • Kurang tw jg,, kn q coba cr dalilx pas drmh.. Nyimak aj skrng.

    @dhany, fardu kifayah brother, bkn fardu ain.

  • hahahahahahaha

    kok gitu gan, gak boleh gitu gan kan kasian SBY...

    nanti malah bau lagi jasadnya....

  • jangan memvonis orang yang kamu tidak mengerti. aku dan yang sedang membaca tulisan kamupun tak akan tahu. itu rahasia Allah walaupun sholatnya dilakukan oleh manusia. kalau Allah menghendaki apa saja bisa terjadi. kunfayaklun ! kunnya Allah apa kunya malaikat apa kunnya iblis.

  • Kewajiban orang yang hidup terhadap saudaranya yang sudah meninggal dunia adalah memandikan, mengkafankan, menshalatkan dan memakamkan. Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan larangan untuk tidak melakukan empat hal tadi kecuali secara jelas dan nyata bahwa jenazah tersebut keluar dari Islam atau dalam kehidupannya mendatangkan bahaya bagi Islam. Koruptor dengan segala kesalahan dan dosanya hanya berkaitan dengan pribadinya yang harus dipertanggungjawabkan dimata hukum negara dan juga di hadapan Allah, sama sekali tidak ada hubungan dengan ancaman terhadap kehancuran Islam ataupun kehancuran umat Islam sehingga siapapun dia asalkan prilaku dia tidak sampai menyentuh hal-hal tersebut dia atas, tidak ada halangan baginya ketika sudah meninggal untuk tidak di shalatkan.

  • “…Dan orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah..” (Al-Baqarah [2]: 165).

    Selama Ramadhan kita dilatih untuk memperbanyak ibadah, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Intensitas kita membaca al-Qur’an naik beberapa kali lipat. Frekuensi zikir pun bertambah. Demikian juga kepedulian kita kepada sesama yang kita wujudkan dalam bentuk infak, sedekah, maupun zakat juga mengalami peningkatan. Semuanya itu kita lakukan untuk menambah kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

    Ramadhan adalah bulan dimana kita sebagai seorang hamba berusaha mendekatkan diri dan berhubungan secara romantis dengan Allah SWT. Kedekatan (taqarrub) kepada Allah yang terjalin di bulan Ramadhan semestinya terus kita pertahankan di bulan-bulan yang lain, bahkan seharusnya bisa ditingkatkan. Bukankah Syawal artinya peningkatan? Saatnya kita tingkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT.

    Lalu, bagaimana caranya? Sayid Rasyid Ridha menjelaskan dalam tafsir Al-Manar-nya, ”Jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah ialah memperbanyak zikir, pikir, dan pemahaman isi al-Qur’an, serta melatih diri melaksanakan segala ketentuan syariah.”

    Zikir yang dimaksud adalah mengingat dengan hati yang dibalut dengan niat yang baik dan tujuan yang suci, merenungkan rahasia dan hikmah di balik ciptaan-Nya. Ketika melihat sesuatu yang baik, indah, dan sempurna dalam alam semesta, segera timbul kesadaran kita bahwa semuanya itu adalah nikmat dan karunia-Nya.

    Ketika mendengar bunyi air mengalir, desiran daun-daun, suara burung, seketika itu juga ingatan kita tertuju pada kebesaran Allah SWT. Ingatan itu disertai dengan sikap jiwa bersyukur dan memuji Tuhan, seperti bersyukurnya Nabi Daud yang kemudian diikuti oleh gunung-gunung, pepohonan, dan juga burung-burung, seperti dijelaskan al-Qur’an: “Sesungguhnya telah Kami jadikan gunung-gunung itu bertasbih (mumuja Tuhan) bersama-sama dengan dia (Daud), di waktu senja dan pagi. Dan burung-burung pun berkumpul, semuanya kembali (patuh) kepada Tuhan.“ (Shad [38]: 18–19).

    Apabila cinta manusia kepada Allah semakin lekat, maka kepatuhan dan ketaatan kepada-Nya semakin bertambah dan kuat, sehingga dengan sendirinya mereka ridha mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah SWT. Waktunya, pikirannya, perasaannya, tenaganya, hartanya, bahkan jiwanya tak segan-segan dipertaruhkan. Itulah yang dibuktikan para sahabat yang mencintai Allah SWT melebihi segala-galanya.

    Adalah Khansa, wanita yang hidup semasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam (SAW). Ia ibu dari empat orang anak yang sangat dicintainya. Suatu hari genderang perang dibunyikan, kaum Muslimin telah bersiap-siap menyongsong musuh dengan semangat jihad yang menyala-nyala. Sang ibu tak ketinggalan, pada malam hari ia kumpulkan anaknya yang masih remaja. Kepada mereka Khansa berkata, ”Kamu berempat adalah anak laki-laki yang lahir dari rahim ibumu. Berangkatlah ke medan jihad dan tancapkanlah dalam hatimu bahwa kehidupan yang kekal dan abadi (akhirat) jauh lebih bahagia daripada kehidupan di alam fana ini.”

  • Hhihhiiihi......shalat jenazah itu fardu ain

    jika sudah ada yg menyal;atkannya maka umat islam yg laen udh gak diwajibkan lagi menyalatkannya

    kan udah diwakilkan....hehehehee

Sign In or Register to comment.